Detail Inovasi Perguruan Tinggi


Tema: Teknik Lingkungan
Judul: PENGARUH PENAMBAHAN LARUTAN AGRI SIMBA DAN SEKAM PADI PADA PROSES PENGOMPOSAN
Perguruan Tinggi: Universitas Kebangsaan
Jenis/sdm: dosen/0415018302#0429096501#

Tahun: 2018

Abstract: Compost process is decomposition process of organic compost which happen biologically where the
compost was change into more stabil and the result of the material it looks like top soil whict called the compost.
The compost system of organic compost with the addition of bacterial and half of rice can make short time for the
compost process it can decrease the range of the compost area and it can increase the quality of the compost.
Every composter be able to reduct of organic compost around 85, 41% - 87,26% (smaller volume) the highest
level of pile average/around 79,3% bb or above the optimal value around 55% bb. Which Cused the pH vaue on
both composter which is control composter and the addition of agri samba above normal > 7,5 ratio C/N the
beginning process of compost above optimal value < 25 : 1 and ratio C/P unoptimal under 100 : 1 (on the third
composter) in the compost process which suusponted with the aerasi un adequate can caused the pile condition
became anaerob it can caused the decomposition process become slower and the quality of the compost is not
appropriate with the decomposition that we want.
Keywords: Agri Simba, Compost, Organic Waste

Abstrak: Proses pengomposan merupakan proses dekomposisi sampah organik yang terjadi secara biologis,
dimana sampah tersebut dirubah menjadi bentuk yang lebih stabil dan materi yang dihasilkan menyerupai humus
yang disebut dengan kompos. Sistem pengomposan sampah organik dengan penambahan bakteri dan sekam
padi dapat memperpendek waktu pengomposan, memperkecil luas area pengomposan, dan meningkatkan
kualitas kompos yang dihasilkan.
Tiap-tiap komposter mampu mereduksi sampah organik rata-rata sebanyak 85,41% - 87,26% (penyusutan
volume). Tingginya tingkat kelembaban tumpukan yang rata-rata mencapai 79,3 % bb atau diatas nilai optimal
sebesar 55 % bb, mengakibatkan nilai pH pada kedua komposter yakni komposter kontrol dan penambahan
larutan Agri Simba diatas netral > 7,5, rasio C/N awal proses pengomposan dibawah nilai optimal < 25 : 1 dan
rasio C/P yang tidak optimal dibawah 100:1 (pada ketiga komposter) pada proses pengomposan yang didukung
dengan aerasi yang tidak memadai menyebabkan kondisi tumpukan menjadi anaerob. Sehingga mengakibatkan
proses dekomposisi menjadi lambat dan kualitas kompos yang dihasilkan tidak begitu sesuai dengan yang
diinginkan.
Kata kunci: Agri Simba, Kompos, Sampah Organik